Tampilkan postingan dengan label Learning and Growth. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Learning and Growth. Tampilkan semua postingan

Catatan dari acara GEPI dan RES

2.8.11 2 comments
Sesuai dengan janji saya kepada ketua TDA Surabaya , mas Adit untuk sharing tentang acara Regional Entrepreneurship Summit (RES) di Bali yang diadakan oleh GEPI ( Global Entrepreneurship Program Indonesia) dan dihadiri oleh Eric Schmidt (CEO Google) dan Hillary Clinton :)

RES adalah rangkaian acara yang diadakan oleh GEPI, dimana sebelumnya juga diadakan kompetisi bisnis, dimana peserta dihadapkan oleh 12 orang juri yang semuanya berasal dari US dan berprofesi sebagai Angel Investor / VC (Venture Capitalist) / PE (Private Equity). Kebetulan saya juga termasuk salah satu finalist yang terpilih.

GEPI adalah bentukan dari Barrack Obama, yang tujuannya adalah mengembangkan enterpreneurship khususnya di emerging market, dan Indonesia adalah negara kedua setelah Mesir.

Acara RES dihadiri oleh ratusan pengusaha dunia, dan mayoritas dihadiri oleh pengusaha Indonesia. Disana juga dihadiri oleh banyak pengusaha besar Indonesia yang juga didapuk untuk sharing dihadapan peserta.

Inti dari acara tersebut adalah bahwa semua sepakat bahwa Indonesia adalah pasar yang sangat besar, bahkan diprediksi tahun 2030 Indonesia akan menjadi lima besar ekonomi dunia. Tahun 2011 GDP Indonesia diprediksi mencapai $ 3.000 , bahkan di Jakarta saat ini sudah mencapai GDP $ 5.000. Menurut banyak ahli titik $ 3.000 adalah sinyal, dimana akan muncul kelompok middle class society yang cukup besar dan mereka memiliki high buying power.

Permasalahannya adalah dengan potensi yang sedemikian besar, banyak pengusaha Indonesia yang belum sadar dan merasa cukup dengan apa yang diperoleh saat ini. Dengan semakin tingginya kompetisi usaha dan diiringi oleh globalisasi, pengusaha kita tidak hanya berkompetisi dengan pengusaha lokal lainnya, akan tetapi juga oleh pengusaha Internasional.

Sekedar gambaran kecil, saya beberapa kali diundang oleh pemerintah Malaysia dalam acara buying mission, dan disana ratusan, bahkan ribuan produk Malaysia sudah siap untuk masuk, tinggal mencari lokal partner yang siap untuk diajak kerjasama. Jadi saat ini pengusaha kita juga harus smart secara ilmu, bukan hanya mengandalkan koneksi dan keberuntungan. Saatnya kita munculkan brand / produk lokal yang bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan berbicara banyak di kancah industri global.

Akan menjadi bahaya jika Indonesia hanya menjadi market konsumsi yang besar akan tetapi tidak diiringi dengan tumbuhnya industri lokal, karena Indonesia dengan populasi yang sangat besar, tidak bisa menjadi negara trader seperti Singapura, karena kita butuh untuk membuka lapangan kerja yang banyak agar terjadi pemerataan ekonomi, dan tidak hanya dikuasai oleh sebagian kecil orang.

Dengan potensi ini maka para delegasi US menjajaki kemungkinan untuk menanam investasi di negeri tercinta ini. Dan salah satu pemenang kompetisi GEPI langsung mendapat komitmen investasi yang katanya mencapai $ 1juta dan bisnis yang dibiayai adalah startup, bukan skala growth. Ini membuktikan bahwa para investor luar tidak hanya tertarik untuk menanam investasi dalam skala besar, akan tetapi juga skala menengah. Dan investasi itu berupa equity investment, bukan loan investment.

Selain dari siapnya infrastruktur dan personal development, inilah salah satu hal penting yang dibutuhkan oleh pengusaha Indonesia saat ini. Untuk pembiayaan, bank bukanlah opsi, khususnya perusahaan yang berada di posisi start up atau early growth stage. Joke seorang pengusaha Malaysia mengatakan "banks only lend you an umbrella when there is a sunshine and they take it back when it rains ". Dan pada saat investor sudah siap, pastikan kita sudah siap dengan perencanaan bisnis kita, because when you fail to plan, you'll plan to fail ( tidak usah memperdebatkan otak kanan or otak kiri, yang jelas menggunakan seluruh kemampuan otak kita jauh lebih baik daripada menggunakannya setengah2 :P )

Thanks
Andi Sufariyanto

PourVous Natural Body Care

Sedang krisis? Jangan potong budget SDM anda

18.3.10 0 comments

stock-photo-tighten-budget-calculator-1202723 Setiap bisnis pasti mengalami saat surut, dimana semua biaya yang keluaar harus diperhitungkan dengan cermat dan efisien. Biasanya pos pertama yang akan dievaluasi oleh perusahaan adalah divisi SDM, karena ini memang merupakan cara yang paling mudah dan paling cepat untuk mengurangi biaya perusahaan. Perusahaan tinggal menunda jadwal training, atau memberhentikan beberapa orang dan biaya operasional serta merta akan turun.

Alih-alih menurunkan budget untuk training SDM, sebenarnya banyak hal lain yang bisa dilakukan. Di divisi pemasaran, apakah semua kegiatan pemasaran dan penjualan sudah terukur efektifitasnya? begitu pun di divisi yang lain, apakah inventory sudah diukur dengan EOQ (Economic Order Quantity), ROP (Re Order Point) serta Safety Stocknya? Atau apakah AR (Account Receiveable) dan AP (Account Payable) sudah diatur dengan cermat? Dan banyak lagi hal yang bisa dicermati untuk meningkatkan efisiensi dari perusahaan. Memang hal ini biasanya jaranng dilakukan oleh perusahaan karena butuh proses dan butuh data-data pendukung. akan tetapi ibarat orang sakit, cara penyembuhan alami jauh lebih baik jika dibandingkan dengan pemberian antibiotik dosis tinggi.

Untuk itu teruslah lakukan training, jangan pernah menurunkan standart kompetensi karyawan. Krisis tidak berlangsung selamanya, dan pastikan pada saat krisis berakhir, kita sudah memiliki team yang siap berlari kencang. Dan kalaupun harus melakukan perampingan, pastikan bahwa itu memang cara terakhir yang harus dilakukan.

Bekerja lebih baik dengan waktu yang lebih sedikit

7.10.09 2 comments

Sebuah survey di Amerika serikat menunjukkan bahwa 70% pekerja di sana bekerja melebihi jam kantornya dan kadang malah harus tetap bekerja pada akhir minggu.Dan yang lebih mengejutkan, lebih dari 50% menderita sindrom “merasa sibuk”, yaiutu sindrom yang dialami seseorang dimana orang yaang menderita sindrom ini merasa bahwa dirinya sudah sangat sibuk, akan tetapi tidak dibarengi dengan hasil/kinerja yang dihasilkan. Hal ini terjadi karena kurang disiplinnya dalam mengelola waktu dan banyaknya distraction (gangguan) selama bekerja, baik itu yang disadari ataupun tidak (ex: ngobrol, ngemil, chatting, dll)

Penelitian pun dilakukan dalam rangka memecahkan masalah diatas. Salah satu metoda yang dipergunakan adalah dengan memberikan “libut tambahan” kepada pekerja setiap minggunya. Walaupun pada awalnya metode ini banyak mendapat tentangan dari para senior manajer, dengan alasan bahwa memberikan libur tambahan bagi pekerja hanya akan membuat banyaknya pekerjaan yang tidak terselesaikan dan akhirnya berpengaruh terhadap performa perusahaan secara keseluruhan.

Namun, setalah dilakukan test terhadap beberapa perusahaan, maka dapat disimpulkan bahwa dengan memberikan “libur tambahan” setiap minggunya ternyata malah meningkatkan kinerja para pekerja tersebut. Dan yang menarik adalah temuan bahwa pekerja yang sering bekerja diatas jam kerja normalnya biasanya memiliki kinerja dan performa yang di bawah rata-rata.

Setelah dilakukan interview akhrinya ditemukan bahwa dengan merencanakan “libur tambahan” akan membuat pekerja bersemangat dalam menyelesaikan pekerjaan yang dihadapinya, karena mereka tidak menginginkan pada saat mereka libur dibayang-bayangi dengan pekerjaan yang belum selesai. Dan secara alam bawah sadar, hal tersebut akan meningkatkan performa kerja mereka. Dan keuntungan lainnya adalah setelah menjalani “libur tambahan”, mereka kembali dengan pikiran dan ide yang lebih segar, yang tentunya lebih siap untuk menerima tantangan baru lagi.

Tips :

  1. Sebelum menjalankan metode ini, pastikan setiap orang telah mempunyai target atau rencana mingguan/bulanan/tahunan yang harus dicapai
  2. Mulailah dengan memantau jam pulang para pekerja, pastikan mereka pulang tepat waktu. Jika memungkinkan perpendek jam kerja mereka setiap harinya
  3. Bebaskan para pekerja menentukan kapan mereka akan mengambil waktu libur mereka dan bagaimana cara mereka menghabiskan waktu libur mereka, kaitkan dengan reward karena mereka telah melakukan pekerjaannya dengan baik
  4. Jika memungkinkan, beri insentif agar pekerja dapat benar-benar menikmati waktu libur mereka (ex : tiket nonton, voucher  dinner, dll)
  5. Pada saat menjalani “libur tambahan”, isolasi para pekerja ini dari hal-hal yang berbau pekerjaan. Buat kesepakatan agar setiap anggota tim yang lain tidak diperkenankan untuk menghubungi pekerja yang sedang melakukan “libur tambahan” kecuali jika benar-benar mendesak.
  6. Kaitkan dengan punishment  jika mereka tidak dapat berkinerja sesuai dengan yang telah ditargetkan

Makhluk unik yang bernama "passion"

12.9.09 1 comments

Siang tadi saya ngobrol via YM dengan salah satu member TDA yang saat ini berdomisili di Jogja. kebetulan rekan saya ini juga memiliki bisnis yang mirip dengan salah satu unit bisnis Adila group, yaitu Virto. Dari pembicaraan kita, saya akhirnya tahu bahwa bisnis itu peninggalan dari orang tuanya dan beliau merasa berkewajiban untuk melanjutkannya. Akan tetapi di perjalanannya, bisnis tersebut belum mampu melesat seperti harapannya.

Kemudian saya ceritakan dengan latar belakang Virto didirikan. Sebenarnya alasannya cukup simpel, yaitu saya ingin memiliki kantor yang cukup layak untuk dikunjungi oleh kolega bisnis saya, dan sekaligus tempat yang layak untuk mengadakan pertemuan rutin tim saya. Berangkat dari situlah Virto dibuat. Dan ternyata dalam proses realisasinya, saya melihat bahwa kebutuhan akan kantor representatif ini sangat besar, terutama untuk kalangan UKM. Dari situlah saya menggali lagi info tentang konsep virtual office, serviced office beserta layanan pendukungnya. Dan muncullah AHA....kenapa tidak dikomersilkan saja sehingga saya dapat memiliki kantor tanpa harus mengeluarkan biaya operasionalnya. Dari situlah semuanya mengalir, dan sebenarnya masih banyak lagi ide yang menunggu untuk direalisasikan.

Kembali ke pembicaraan saya dengan rekan saya ini, dari pembicaraan kami akhirnya berujung pada satu titik, yaitu passion. Ternyata kewajiban untuk meneruskan bisnis tersebut belum diimbangi dengan passionnya, jadi belum dapat feelingnya. Padahal passion ini menurut saya sangatlah penting.
  1. Passion dapat membuat ide - ide segar dalam bisnis bermunculan.
  2. Passion yang senantiasa me recharge semangat kita walaupun perjalanan bisnis kita belum sesuai harapan.
  3. Passion akan membuat kita sebagai influencer, sehingga mampu menarik minat pelanggan tanpa harus melakukan hard sellling.

Apalagi dengan perkembangan social media saat ini, dimana setiap orang sangat mudah untuk berhubungan satu sama lainnya, passion meruupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam mempengaruhi opini orang lain. Ada banyak contoh nyata, mulai dari Oprah Winfrey, Tony Heish (Zappos) sampai Richard Branson (Virgin). mereka adalah orang - orang yang sangat passionate dalam mengelola bisnis mereka dan terbukti bahwa bisnis mereka saat ini semakin menggurita.

Passion ini jugalah yang akhirnya membuat saya terjun menggeluti dunia entrepreneurship, walaupun saat ini masih banyak hal yang harus saya pelajari. Passion juga yang membuat saya terus bangkit walaupun diterpa badai berkali - kali (saya sudah lebih 10 kali mengalami kegagalan dalam mengelola bisnis). Dan menariknya, passion itu bukanlah sesuatu yang harus dimiliki dari awal. Passion itu ternyata dapat kita ciptakan dan bentuk sesuai keinginan kita.

Intresting isn't it?